Tuesday, September 21, 2010

SEJARAH TIMBANGAN DINAR-DIRHAM ISLAM DAN STANDAR ISLAMIC MINT NUSANTARA

Oleh: abbas – Islamic Mint Nusantara

Bismillahirrahmanirrahim.

Penjelasan ini dibuat sebagai jalan untuk mengenali masalah yang sebenarnya dan untuk mendorong muslim di Indonesia yang memiliki keinginan kuat untuk mengamalkan syari’at secara nyata, sebagaimana semestinya, terutama dalam menegakkan kembali Muamalat Islam seperti perdagangan islam, pemerintahan islam, pencetakan dinar-dirham, pasar islam, permodalan islam seperti qirad dan syirkah, fungsi wakaf dan restorasi zakat. Dinar-dirham kini telah dicetak kembali oleh Islamic Mint Nusantara (2000) maka perlu juga kita mengetahui sejarah timbangan dinar-dirham islam ini, mudah-mudahan tulisan ini dapat menambah wawasan kita semua dan menjadi semakin memperjelas apa itu standar dinar dirham yang syar’iy.


Dari Abu Bakar Ibn Abi Maryam radhiyallah anhu, dari Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam, bersabda: “Akan datang masanya ketika tidak ada yang tertinggal yang bisa dimanfaatkan kecuali dinar dan dirham.” (HR. Ahmad bin Hanbal).

Mengenai uang sebagai alat transaksi perdagangan, Syekh besar al-Azhar Muhammad ‘Illisy (1300H) tetap berpegang teguh kepada aturan Allah dan RasulNya, dan beliau mengeluarkan Fatwa hukum Islam (Fikih) bahwa Zakat, tak dapat dibayarkan dengan uang kertas, jikapun hendak menggunakan uang kertas, maka selayaknya nilai uang kertas ditilik dari nilai bahan dasarnya, yaitu kertas, bukan dari angka-angka khayal yang tertulis padanya.

Sebelum manusia mengenal uang mereka sudah melakukan aktifitas jual beli dan tukar menukar barang dan jasa. Kemudian munculah mata uang (an-nuqud) dimana dengan berjalannya waktu manusia mengenal emas dan perak sebagai tolok ukur yang menilai barang dan jasa, emas dan perak memiliki nilai intrinsik maka keduanya menjadi alat tukar atau uang.

Orang-orang Arab sebelum islam terutama quraisy sudah berniaga dengan berbagai negara tetangga dan berbagai tempat, dan di antara mereka telah dikenal timbangan khusus antara rithl, uqiyah, nasy, nuwat, mistqal, dirham, daniq, qirath dan habbah. Mitsqal adalah timbangan dasar yang dikenal luas dikalangan mereka, 1 mitsqal sama dengan 22 qirath kurang 1 habbah, ukuran 10 dirham saat itu sama dengan 7 mitsqal
Kemudian ketika masa Islam datang Rasulullah salallahu alaihi wassalam menetapkan (dengan taqrir, penggunaan) dinar dan dirham tersebut sebagai mata uang. Rasululllah menetapkan timbangan mata uang dinar dan dirham yang telah berlangsung pada masa Quraisy. Dari Thawus dari Ibn Umar, Rasulullah salallahu alaihi wassalam bersabda:

Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, dan takaran maka takaran penduduk Madinah. (HR. Abu Daud dan Nasa’i)

Diriwayatkan oleh Baladzuriy dari Abdulllah bin Tsa’labah bin Sha’ir:
Dinar Hiraklius (Romawi) dan Dirham Persia biasa digunakan oleh penduduk Makkah pada masa Jahiliyah. Tetapi mereka tidak menggunakannya dalam jual beli, kecuali menjadikannya (timbangan) lantakan. Mereka sudah mengetahui timbangan mitsqal. Timbangannya adalah 22 qirath kurang (satu dirham) Kisra. Dan timbangan 10 dirham sama dengan 7 mitsqal. Satu rithl sama dengan 12 uqiyah, dan setiap uqiyah sama dengan 40 Dirham. Dan Rasulullah membiarkan hal itu. Begitu pula Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.

Saat itu kaum muslim telah menggunakan bentuk cetakan dan gambar dinar Hirakliy dan dirham Kisra pada masa Rasulullah salallahu alaihi wassalam, Khalifah Abu Bakar Shiddiq dan pada permulaan masa Khalifah Umar. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar, beliau mencetak dirham yang baru berdasarkan dirham Sasanid dimana bentuk dan timbangannya mengacu kepada dirham Kisra, gambar dan tulisannya bermotif Bahlawiyah dengan ditambahkan tulisan huruf Arab kufi, dengan nama Allah dan dengan nama Allah Rabbku.

Sejarah Timbangan Dinar dan Dirham

Imam Abu Zayd Ibn Khaldun (d. 1406) Umar bin Khattab, radiya’llahu’anhu menetapkan hubungan tegas antara keduanya sesuai berat mereka yakni:

“(berat) 7 Dinar harus setara dengan (berat) 10 Dirham” Wahyu Allah menyebut Emas dan Perak serta mengaitkannya dengan berbagai hukum , misalnya zakat, perkawinan, hudud. Sehingga sesuai wahyu Allah, Emas dan Perak mesti nyata dan memiliki ukuran dan penilaian tertentu (untuk zakat atau dan lainnya) yang mendasari segala ketentuannya, bukan atas sesuatu yang tak berdasarkan shari’ah (kertas dan logam lainnya). Ketahuilah bahwa terdapat persetujuan umum (ijma) sejak permulaan Islam dan masa Sahabat serta tabi’in, bahwa dirham yang sesuai shari’ah adalah yang sepuluh kepingnya seberat 7 mitsqal (bobot dinar) emas. Berat 1 mistqal emas adalah 72 butir gandum, sehingga dirham yang bobotnya 7/10-nya setara dengan 50-2/5 butir. Ijma telah menetapkan dengan tegas seluruh ukuran ini.” (Al-Muqadimmah)

Pada masa Abdul Malik bin Marwan telah mencetak dinar Islam dengan timbangan sendiri, sementara dinar Byzantium timbangannya menggunakan satuan mitsqal. 1 mitsqal sama dengan 8 daniq dan satu daniq sama dengan 20 qirath, atau 22 qirath kurang 1 dirham Kisra. Satu mitsqal setara dengan 72 biji gandum ukuran sedang yang dipotong kedua ujung.

Rasulullah salallahu alaihi wassalam telah menetapkan timbangan ini bagi dinar, dan mengaitkannya dengan hukum-hukum zakat, diyat, nishab potong tangan dalam pencurian, sehingga menjadi timbangan yang sesuai syar’iy bagi dinar, dan dikemudian hari timbangan ini pula yang digunakan sebagai acuan oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan ketika mencetak dinar islam, dan menjadikannya mitsqal.
Dirham memiliki timbangan yang bermacam-macam, saat itu saja dirham Persia saja memiliki tiga macam (timbangan) dirham: al-kibar (besar) dengan ukuran setara ukuran mitsqal atau 20 qirath, al wustha (pertengahan) dengan ukuran setiap 10 dirham sama dengan 6 mitsqal, yaiutu sama dengan 12 qirath dan ash-shigar (kecil) dengan ukuran setengah mitsqal.

Uang perak Sasanid yang dihitung ulang berdasarkan beratnya oleh Rasulullah, sallallahu alayhi wa sallam, yang disebabkan karena perselisihan antara Burairah RA dan Aisyah RA, pada awal hijriah di Madinah sebelum perang Badar, karena terdapat 3 macam dirham Sasanid yang berbeda berat dan ukuran, yaitu: dirham besar 20 qirath, dirham sedang 12 qirath, dirham kecil 10 qirath. Hitungannnya adalah: (20+12+10) : 3 = 14 qirath

Berat dirham menurut Rasulullah adalah 14 qirath atau 14/20 atau 7/10 mitsqal dari berat dinar. Pada masa Khalifah Umar Ibn Khattab RA, di tahun 20 Hijriah dirham standar Rasulullah ini dicetak untuk pertama kalinya dengan motif Sasanid.

Imam al Baladzuriy meriwayatkan dari Hasan bin Shalih bahwa:

‘ Mata uang yang dibuat oleh orang Persia itu berbeda-beda, ada yang besar dan ada yang kecil. Dirham ukuran besar mereka tetapkan timbangan seberat 1 mitsqal yang sama dengan 20 qirath. Dirham kecil mereka tetapkan timbangannya seberat 12 qirath. Sedangkan dirham yang sedang mereka tetapkan timbangannya seberat 10 qirath atau setengah mitsqal.’

Dirham yang besar mereka sebut dirham baghliy atau as-suud al-wafiyah yang digunakan sebagai standar bagi dirham. Emas seberat 1 mitsqal yakni 8 daniq dan 1 daniq adalah sama dengan 2 ½ Qirath, jadi 1 mitsqal sama dengan 20 qirath. Timbangan ini telah diberlakukan sejak masa Sasanid dan di jaman Khulafa ar-Rasyidin.

Dirham ukuran sedang timbangan beratnya adalah 4.8 daniq adalah sama dengan 12 qirath. Dirham ukuran sedang ini disebut dirham al-jawaraqiyyah yang di ambil namanya dari daerah Jaurakan, tempat pencetakannya

Dirham ukuran kecil beratnya adalah ½ mitsqal dinamakan dirham ath-thibriyyah yang di ambilkan namanya dari daerah Thabaristan (wilayah Iran), tempat pencetakannya. Timbangannya adalah 4 daniq, yaitu sama dengan 10 qirath.

Setelah Islam datang maka ditetapkanlah kewajiban zakat atas perak, yaitu setiap 200 dirham zakatnya adalah 5 dirham. Dirham yang setiap 10 kepingnya berbeda-beda, dinilai seberat 7 mitsqal, sehingga dikenal dengan sebutan timbangan tujuh (waznuh as-sab’ah) yaitu timbangan untuk dirham ukuran sedang. Hal ini dilakukan setelah menyatukan timbangan qirath yang berlainan antara dirham besar, sedang dan kecil. Jumlah berat timbangan dari ke 3 macam dirham ini dibagi 3, sehingga berat rata-ratanya adalah 14 qirath, yaitu 6 daniq yang setara dengan berat 50 2/5 biji gandum ukuran sedang yang sudah dipotong kedua ujungnya, ukuran timbangan ini sama beratnya dengan 4200 biji khardal, inilah dirham syar’iy yang jadi standar untuk hukum zakat dan diyat.

Timbangan inilah yang dikenal dan dipandang sah pada masa Rasulullah salallahu alaihi wassalam lalu di masa Khalifah Umar al-Khattab ditetapkan kembali beratnya dengan daniq dan qirath, kemudian pada masa Abdul Malik bin Marwan timbangan itu pula yang dipakai untuk mencetak dirham islam setelah dirham Persia tidak berlaku lagi.

Kemudian hari ini dari hasil peneletian sejarah mengenai pengetahuan tentang timbangan-timbangan dinar emas, dirham perak dan ketentuan berbagai macam ukuran dapat dimungkinkan setelah ditemukannya mata uang kuno seperti dinar Byzantium, dirham Kisra, dinar dan dirham islam terutama yang dibuat pada masa Abdul Malik bin Marwan yang didasarkan kepada timbangan dinar dan dirham yang syar’iy.
Koin-koin kuno tersebut disimpan dan tersebar diberbagai museum kemudian dikaji berat timbangannya dan diteliti secara cermat dan akurat antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga diketahui bahwa dinar Islam yang dicetak Abdul Malik bin marwan adalah 4.25gram. Beratnya sama dengan solidos yaitu mata uang emas yang berlaku di Byzantium, sama dengan timbangan berat drachma Yunani, yang juga mengacu kepada timbangan Byzantium, solidos.

Timbangan Dinar dan Dirham Islam
Koin dinar dirham Islam yang telah dicetak hari ini oleh Islamic Mint Nusantara (IMN) dengan timbangan 1 Dinar = 4.25 gram, 22K (91.7) dan 1 Dirham = 2.975 gram bukanlah hal yang baru, melainkan sudah ada dalam sejarah timbangan kaum muslimin dan masa sebelum islam.

Timbangan 1 dinar beratnya adalah 1 mitsqal dan mitsqal adalah standar timbangan seluruh mata uang, maka dengan mengenal ini maka kita akan mengetahui dengan mudah timbangan berat dirham, daniq, qirath, habbah yang dibandingkan dengan mitsqal.

1 mitsqal = 4.25 gram setara dengan 8 daniq, maka timbangan 1 daniq emas dalam satuan gram adalah 4.25 gram berat 1 mitsqal dibagi dengan 8 daniq = 0.53125 gram, berat 1 daniq.

1 mitsqal = 20 qirath, maka berat 1 qirath dalam satuan gram adalah 4.25 gram berat 1 mitsqal dibagi dengan 20 qirath = 0.2125 gram, berat 1 qirath.

1 mitsqal sama beratnya dengan timbangan 72 biji gandum, maka timbangan 1 biji gandum dalam satuan gram adalah 4.25 berat 1 mitsqal dibagi berat 72 biji gandum = 0.059 gram, berat emas sebesar biji gandum, yang sama dengan berat 83.3 biji khardal.

1 dirham sama dengan 7/10 mitsqal, dan tiap 10 dirham sama dengan 7 mitsqal, maka berat timbangan 1 dirham dalam satuan gram adalah 4.25 gram berat 1 mitsqal x7/10 = 2.975 gram, berat 1 dirham.

10 dirham yang timbangan beratnya 7 mitsqal, timbangan berat 10 dirham dalam satuan gram adalah 10 dirham x 2.975 gram berat 1 dirham = 29.75gram, berat timbangan 10 dirham
atau 7 mitsqal sama dengan 10 dirham, maka timbangan berat 7 mitsqal dalam satuan gram adalah 7 mitsqal x 4.25 gram berat 1 mitsqal = 29.75 gram, timbangan 7 mitsqal.

Berat 1 dirham sama dengan 6 daniq , maka berat 1 daniq perak dalam satuan gram adalah 2.975 gram berat 1 dirham dibagi dengan 6 daniq = 0.4958 gram, berat 1 daniq perak. (*daniq telah dicetak pertamakali secara akurat oleh Islamic Mint Nusantara)

1 uqiyah yang digunakan untuk menimbang dirham itu sama dengan 40 dirham, maka timbangan perak uqiyah dalam satuan gram adalah 2.975 gram berat 1 dirham x 40 dirham berat 1 uqiyah = 199gram, berat 1 uqiyah perak

Timbangan-timbangan ini adalah di masa sebelum islam, dan Islam mengakui semua jenis mata uang tersebut, dan mengakuinya penggunaannya sebagai alat tukar (pembayaran) yang berlaku dan beredar di tengah tengah masyarakat, sekaligus dijadikan sebagai standar bagi nilai barang dan jasa, semua ini adalah merujuk kepada timbangan penduduk Makkah.

Sebagaimana dalam sebuah riwat disampaikan Rasulullah salallahi alaihi wassalam: ‘Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah’ (HR. Abu Daud dan Nasa’i)

Jadi dari penjelasan sejarah di atas kita dapat mengambil pelajaran mengenai awal mulanya timbangan dinar dirham Islam itu berasal dan apa kaitannya dengan hari ini, lebih jauh kita jadi bisa mengerti sekarang bahwa standar dinar dirham islam bukanlah kepemilikan atau klaim dari seseorang, kelompok atau organisasi tertentu. Dengan menyadari hal ini, maka marilah kita berlomba-lomba dalam amal kebaikan dalam persaudaraan Islam. Sedangkan mengenai keterkaitan dinar dirham dengan otoritas, adalah otoritas yang telah dikenal luas di Indonesia dalam hal ini adalah Sultan-Sultan di Nusantara.

Wednesday, September 15, 2010

DINAR EMAS 2 : By Dr. Mahathir Mohamad on September 14, 2010 8:50 AM

By Dr. Mahathir Mohamad on September 14, 2010 8:50 AM
http://chedet.co.cc/chedetblog/2010/09/dinar-emas-1.html

1. Izinkan saya jelaskan pandangan saya terhadap kegunaan dinar emas yang saya cadangkan.


2. Saya telah cadang dinar emas digunakan untuk dagangan antarabangsa sahaja. Saya tidak pernah cadang dinar emas diguna sebagai matawang mana-mana negara untuk kegunaan harian.


3. Walaupun harga emas lebih stabil daripada matawang, tetapi nilai emas juga bergerak. Semasa Perjanjian Brettonwoods satu auns emas bernilai $35 Dolar Amerika. Tetapi sekarang satu auns emas bernilai $1,300 Dolar Amerika. Ini bermakna nilai Dolar telah jatuh degan teruk. Namun untuk dagangan antarabangsa Dolar masih diguna.


4. Jika satu syiling emas diberi nilai 1 Ringgit hari ini umpamanya dan kemudian nilai emas meningkat maka sudah tentu pemilik syiling emas tidak akan gunanya untuk membeli-belah dengan bernilai satu Ringgit. Mereka akan guna wang kertas 1 Ringgit. Syiling emas akan disimpan.


5. Lama kelamaan semua dinar emas yang dikeluarkan oleh pihak berkuasa akan hilang dari pasaran. Walau banyak mana sekali pun pihak berkuasa mengeluar dinar emas akhirnya akan habis emas yang disimpan. Inilah yang berlaku pada Amerika Syarikat yang pada satu masa memiliki 80 peratus daripada simpanan (reserve) emas dunia.


6. Mekanisma yang lain akan diguna untuk dagangan antarabangsa dengan dinar emas. Simpanan matawang emas tidak perlu dalam bentuk syiling tetapi sebagai bata atau jongkong emas yang nilai-nilai akan mengikut harga emas dalam pasaran.


7. Bayaran untuk dagangan akan dibuat oleh bank pusat setelah dihitung nilai eksport dan nilai import antara dua negara. Jika import melebihi eksport maka negara berkenaan akan bayar dengan nota kredit bersamaan jumlah nilai emas sebanyak kelebihan nilai import tolak nilai eksport.


8. Jika pada bulan hadapan eksportnya ke negara berkenaan melebihi nilai import maka bayaran untuk kelebihan ini boleh dibuat dengan nota kredit bulan lepas.


9. Dengan cara ini tidak ada keperluan membayar dengan emas walaupun emas menentukan nilai barangan yang didagangkan. Hanya bayaran dibuat untuk lebih atau kurangnya eksport dengan import secara total dengan negara-negara berkenaan tiap bulan atau minggu. Jika nilai import adalah sama dengan eksport, bayaran tidak perlu dibuat. Ia menjadi dagangan secara barter (tukar barang).


10. Dengan menggunakan emas untuk menentukan nilai dagangan, Dolar Amerika yang jelas tidak stabil tidak perlu digunakan lagi. Permainan oleh penyangak matawang juga akan terhenti.

Pandangan Jentayu Emas


Memang tidak dinafikan bahawa dinar emas diakui mempunyai keistimewaannya tersendiri dari segi kestabilan dan nilai intrinsikya. Walaubagaimanapun, dinar emas dicadang hanya untuk menyelesaikan bayaran lebihan antara import-eksport dagangan antarabangsa memandangkan perdagangan antarabangsa memerlukan penetapan kadar pertukaran matawang di antara negara yang terlibat.

Apa yang pernah disarankan oleh YABhg. Tun Dr Mahathir satu ketika dahulu ialah penggunaan dinar emas sebagai sistem penjelasan pembayaran dalam perdagangan dua hala (BPA) atau pelbagai hala (MPA) antara negara - negara OIC. Walaubagaimanapun ini hanya akan berlaku apabila terdapatnya persetujuan antara negara –negara yang terlibat.



Petikan dari ucapan Y.A.Bhg. Tun Dr. Mahathir ketika merasmikan Pembukaan Seminar Pasaran Modal Islam Antarabangsa di Suruhanjaya Sekuriti (SC)
 (Kuala Lumpur, 26-03-2002)
... 37. ... The proposal is to make this Dinar a currency for international trade only. It is not meant to replace the currency of any country. ...


Ini sekaligus telah menyangkal dakwaan pelbagai pihak tertentu yang beranggapan bahawa YABhg. Tun Dr. Mahathir telah mencadangkan penggunaan dinar dirham sebagai mata wang alternatif bagi menggantikan Ringgit Malaysia dalam urusan seharian.


YABhg. Tun juga pernah mencadangkan penggunaan 'Asian currency' untuk negara-negara Asia dengan menggunakan emas. Ia bukanlah matawang yang digunakan oleh seluruh penduduk Asia melainkan sebagai matawang perantara antara kerajaan dengan kerajaan dalam menyelesaikan 'trade settlement' antara dua negara.


Pada pandangan kami,bagi negara-negara OIC dan dunia Islam, inisiatif dalam menggunakan emas untuk penyelesaian perdagangan antarabangsa boleh menjadi paksi dalam menguatkan dan menyatukan dunia Islam.

Tuesday, September 7, 2010

Selamat Hari Raya Aidilfitri Maaf Zahir Batin

Assalamualaikum dan salam sejahtera.

Bagi pihak pengurusan Jentayu Emas Trading dan Jentayu Emas Research Group kami ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Aidilfitri dan Maaf Zahir Batin jika ada  kesalahan tutur kata dan perbuatan, serta janji yang tidak tertunai sepanjang perhubungan ini. Moga hubungan yang telah terjalin akan terus utuh dan erat.




Buah pauh di tengah bendang

Jadi dagangan di tengah kota

Saudara jauh datang bertandang

Bermaaf-maafan sesama kita



Masak udang dan gulai ketam

Pembasuh mulut kuih keria

Berbunyi mercun berdentum-dentam

Riang gembira di Hari Raya



Sungai disusur sehari-hari

Dalam gelap menangkap ikan

Kami meyusun sepuluh jari

Salah dan silap harap maafkan



Aidilfitri hari kemaafan

Menghapus kesalahan sesama insan

Memupuk perpaduan sesama ehsan

Mengikat tali keakraban



Disisir diandam dengan cekap

Potong rambut pelbagai gaya

Puasa sebulan sudahlah lengkap

Kita menyambut Hari Raya



Adik tersayang segak bergaya

Mengait kuih di atas para

Suasana riang di Hari Raya

Bermaaf-maafan riang gembira