Thursday, June 30, 2011

DIRHAMS AND DINARS IN SHARI’AH


It is essential in order to complete the picture of zakah on gold and silver to find out how much, exactly, is the dirham of silver and the dinar of gold worth today. We can then determine the current equivalent of nisab. Many scholars early and late, have attempted to find out the exact quantity of the dirham and dinar. They include Abu ‘Ubaid in al Amwal, al Baladhari in Futuh al Buldan, al Khattabi in Ma’alim al Sunan, al Mawardi in al Ahkam al Sultaniyah, al Nawawi in al Majmu‘, al Maqrizi in Ancient Islamic Currencies, Ibn Khaldun in the Introduction, and several others.
Ibn Khaldun summarizes, “One must realize that it is unanimously agreed upon since the early ages of Islam, the era of the Companions and Followers, that the dirham in Shari’ah is that ten of which equal in weight seven mithqal of gold. Uqiyyah is 30 dirhams. Consequently, the weight of a dirham of silver equals seven-tenths the weight of a dinar of gold. One dinar of pure gold equals 72 grains of rye of average weight; thus, one dirham weighs fifty-five grains. All these measures are affirmed by unanimous agreement.”
The dinar [which is the same as a mithqal] did not change from the era before Islam. However, Muslim currencies, at the above mentioned weights, were used in a wide area, since the time of Ummayad caliph ‘Abd al Malik bin Marwan. At this time, there were different dirhams with different weights, and he unified them, in accordance with the above ratios. Changes were incorporated in later minting of dirhams and dinars after ‘Abd al Malik in several countries, so the above-cited definition by Ibn Khaldun became only theoretical, and people had to find out the proportion between their local currencies and those definitions in determining nisab and other Shari’ah quantities.
The Prophet (p) guides us to a very useful practice, in unifying measures and quantities all over the country. He said, “Weight measures are those used by Makkans, and volume measures are those used by Madinans.” Makkans were people of trade, accustomed circulating dinars and dirhams by weight, and they wore more precise in their weight measurements. Madinans were cultivators of crops and fruits, and they were more accurate in using volume measures, such as al Wasq, al Sa’, and al mudd. It was hoped that all Muslim countries would unify and standardize their measure of weight and volume, in accordance with those of the Makkans, and Madinans, in order to make the application of quantities mentioned in Shari’ah easier. Unfortunately, Muslims have not given sufficient attention to that useful directive of the Prophet (p). They have differences in their measures of weight and volume from one country to the other, and we came to see ratl defined differently in Baghdad, Madinah, Egypt, and Syria, the same way the dirham and dinar were given different weights in different countries. All this makes our task of finding the exact equivalent of the dirham and the dinar today even more difficult. Those grains that were used in defining the dirham and the dinar are not themselves precise, which adds yet another difficulty to the problem on hand. Yet we must determine the exact weight of the dirham and the dinar in order to define nisab of gold and silver in our days.
‘Abd al Rahman Fahmy, secretary of the Islamic Art Museum in Cairo, after a thorough examination of the tools used for minting, and many historical coins, comes up with the estimation that a dirham equals 3.104 grams of silver in his book on coin minting in the early ages of Islam. Ibn ‘Abidin, after narrating several views of the Hanafites, comes up with a conclusion that it is very difficult to find an agreement on the exact weights of dirhams and dinars. A more recent researcher, using al Maqrizi’s writings and comparing Greek and Islamic weights for the dirham and dinar, concludes that the dirham should be 3.12 grams of silver, which is close to Fahmy’s figure. But it seems that the latter study does not distinguish between the dirham that used to be a unit of weight and the dirham that was used as a unit of silver currency. Al Maqrizi himself quotes from al Khattabi that there used to be several dirhams, one a weight unit and another a currency unit. Some other studies depend on actually weighing coins that were saved from the early Islamic eras and preserved in museums throughout the world. It seems, however, that the mithqal, which is the same as the dinar, is more constant and stable than the dirham. If we can determine the weight of a mithqal, then the weight of a dirham can easily be derived.

Sources: FIQH AL ZAKAH (VOLUME I),
A COMPARATIVE STUDY OF ZAKAH, REGULATIONS AND PHILOSOPHY IN THE LIGHT OF QUR’AN AND SUNNAH (129-130).
DR. YUSUF AL QARDAWI

Monday, June 27, 2011

SEMUA SULTAN NUSANTARA HARUS BERSATU DAN MEMIMPIN RAKYAT


SULTAN-SULTAN HARI INI HARUS MENGAMBIL KEMBALI APA YANG MENJADI AMANAH MEREKA UNTUK MEMERINTAH WILAYAH MUSLIM (DAR ISLAM)
Semua Sultan di Nusantara, hari ini harus segara kembali mengambil alih kepemimpinan di nusantara,  ketika para kafir penjajah nusantara  yang katanya telah ‘memerdekakan’ indonesia, ternyata mereka menanam sistem politik demokrasi, uang kertas dan bank sentral yang tidak lain adalah sistem riba! kita muslim tidak perlu demokrasi dan kepalsuan humanisme, hak asasi manusia, liberalisme, konstitusi, kepalsuan persamaan, kepalsuan kebebasan. bagi yang mengerti apa yang dibicarakan, pastinya setuju bahwa ‘pemerintahan’hari ini hanyalah dagelan, filmnya berjudul demokrasi. sekali lagi hanya untuk yang bisa melihat ilusi demokrasi ini.
inilah akhir jaman, akhir dari sebuah perjalanan dan akan kembalinya Islam sekali lagi. dengan dimulainya:
Sultan harus segera kembali meletakan hukum tertinggi berada pada Allah dan mengikuti sunnah rasulNya, dan memberlakukan kembali shariat islam dalam artian luas, mengumpulkan kembali  qadi, fuqaha dan ulama agar mereka menjalankan kembali fungsi mereka.
Sultan-Sultan harus kembali mengambil alih penggunaan seluruh sumber alam yang telah diambli dengan cara-ara rekayasa dan tidak adil oleh korporasi internasional dan lokal para kafir, dan mendudukannya kembali penggunaannya kepada kepentingan muslim nusantara dan muslim dunia.
Sultan perlu segera mengambil alih fungsi alat tukar, dengan menggantikannya kepada koin dinar emas dan dirham perak dan segera memberlakukan pelarangan riba dalam bentuk apapun dalam muamalat kaum muslim dinusantara. diharamkannya uang kertas yang tidak ada harganya.
Sultan harus segera memberlakukan kembali pasar-pasar bebas islam yang didasarkan kepada waqf, semua sarana umum dikembalikan kepada fungsi waqf
Sultan harus segera membubarkan perbankan dan lembaga riba lainnya dan melakukan hukuman berat bagi yang menolak, membangkang untuk mentaati perintah Allah dan sunnah rasulNya
Sultan dan Amir mengumpulkan seluruh laskar-laskar islam dibawah satu bendera, benderanya Rasulullah salallahu alaihi wassalam dan semua komando berada dibawah sultan.
Sultan mulai menarik zakat mal dengan emas dan perak, dan menghilangkan semua pajak-pajak liar.
Sultan mulai mengembalikan kembali fungsi baitul mal, dan dengan segera menunjuk Amir-Amir lokal dari wilayah-wilayah atau dari setiap kaum muslim.
Sultan melindungi kaum dhimmi (non-muslim), dan menarik pajak dari mereka, dan tidak ada seorangpun yang boleh mengganggu mereka tanpa alasan yang jelas.
Sultan di dampingi oleh Shaykh jaman ini. tegaknya kembali dawla islam

Sumber: http://islamhariini.wordpress.com/2008/06/12/semua-sultan-nusantara-harus-bersatu-dan-memimpin-rakyat/

TELAH DI CETAK NISFU DINAR (24K) DAN DIRHAM AS SALAM STANDAR NABAWI

Posted on by Al Faqir

Wednesday, June 22, 2011

REJAB, SYAABAN, RAMADAN BULAN IBADAT



Tidak  terasa kita sudah berada di sepuluh hari terakhir bulan Rejab 1432 Hijriah. Tidak lama lagi kita akan melangkah ke bulan iaitu Syaaban dan seterusnya Ramadan. Betapa pantas masa berlalu.
Rejab, Syaaban dan Ramadan adalah bulan yang ditunggu-tunggu. Rasulullah Sallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Bulan Rejab bulan Allah, bulan Syaaban bulanku dan bulan Ramadan bulan umatku. Kemuliaan Rejab dengan malam Israk Mikrajnya, Syaaban dengan malam Nisfunya Ramadan dengan Lailatulqadarnya."
Israk Mikraj ialah perjalanan Junjungan Besar Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Palestin dan kemudiannya naik ke langit menuju Hadratul Qudus bagi menemui Allah Subhanahu Wata'ala. Di dalam pertemuan tersebut, Baginda menjunjung perintah agar umat Islam mengerjakan sembahyang fardhu lima waktu (asalnya 50 waktu).
Rejab ertinya ta'zim (kebesaran, keagungan, kemuliaan / rahmat, pemurah, kebajikan). Bulan seterusnya ialah Syaaban. Diceritakan bahawa pertengahan bulan Syaaban atau Nisfu Syaaban adalah hari di mana buku catatan amalan manusia selama setahun diangkat ke langit dan diganti dengan buku catatan yang baru (15 Syaaban bermula pada 14 Syaaban sebaik sahaja masuk Maghrib).
Nisfu Syaaban adalah malam yang penuh berkat dan rahmat selepas malam Lailatulqadar. Imam Al-Baihaqi Radiallahuanhu meriwayatkan Saiyidatina Aisyah Radiallahuanha menceritakan bahawa Rasulullah Sallahahu Alaihi Wasallam pada malam itu (Nisfu Syaaban) bangun dan bersembahyang dan dalam sujud yang lama kedengaran Baginda berdoa memohon keampunan, keredaan dan perlindungan Allah Subhanahu Wata'ala serta memuji-Nya.
Selepas Syaaban, kitani akan bersua lagi dengan bulan Ramadan di mana umat Islam menunaikan tuntutan puasa fardu dan zakat fitrah. Ramadan mempunyai keistemewaan yang melebihi bulan-bulan lain. Rasulullah Sallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
"Diberi kepada umatku lima perkara yang belum pernah diberi kepada umat-umat dahulu sebelumnya: - a) Bau mulut orang berpuasa lebih harum daripada kasturi di sisi Allah; b) Segala perbelanjaan dan derita lapar selama puasanya adalah syurga balasannya; c) Diampunkan dosa-dosa mereka pada malam Lailatulqadar (satu malam dalam Ramadan yang nilainya lebih baik dari 1,000 bulan); d) Amalan yang dilakukan pada bulan Ramadan dibalas kepada 10 hingga 700 kali ganda, melainkan puasa maka ianya bagiKu, Aku balas kepadanya yang berkuasa menahan syahwatnya, makan minumnya kerana Aku; dan e) Dikurniakan nikmat kepada mereka keseronokan ketika berbuka dan ketika menemui Tuhan di akhirat."
Kita rebutlah peluang kedatangan bulan-bulan ini dengan memperbanyakkan doa bagi kemakmuran dan kesejahteraan yang berkekalan untuk bangsa, agama, raja dan negara.

Tuesday, June 21, 2011

"LAWAN PERHIMPUNAN BERSIH"

 

PERKASA menolak sekeras kerasnya Perhimpunan Haram Bersih, Mohon Pihak KDN untuk mengambil tindakan terhadap penganjur " PERHIMPUNAN BERSIH"
BANGKITLAH MEMPERTAHANKAN KEAMANAN NEGARA DEMI KESEJAHTERAAN RAKYAT.

Siapa dalang di sebalik 'BERSIH'? Merekalah pengkhianat Negara
MEMBUJUR LALU MELINTANG PATAH..

Friday, June 3, 2011

Menjunjung Tahniah Sempena Hari Keputeraan Seri Paduka Baginda Yang Di Pertuan Agong


Merafak Sembah Setinggi-Tinggi Tahniah
                                                            
dan Ucap Selamat kepada

Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong Al-Wathiqu Billah Tuanku Mizan Zainal Abidin Ibni Al-Marhum Sultan Mahmud Al-Muktafi Billah Shah

D.K.M., D.K.T., D.K.R., D.M.N., S.U.M.Z., S.S.M.T., S.P.M.T., D.K. (Perlis), D.K. (Johor), D.K.M.B. (Brunei), D.K. (Perak), D.K. (Negeri Sembilan), D.K. (Kedah), D.K. (Kelantan), D.K. (Selangor), S.P.M.J., Commandeur de la Legion d’Honneur (France)

Sempena Hari Ulang Tahun Keputeraan Baginda Yang Ke 48

Semoga Allah Melanjutkan Usia DYMM Tuanku


Daripada

Lembaga Pengarah


Pengurusan Jentayu Emas Trading


serta  Wakala IMN Malaysia.