Wednesday, December 4, 2013

Dinar Dirham & Daniq Islamic Mint Nusantara


Assalamualaikum, Untuk makluman semua , pihak kami bercadang untuk mendapatkan stok Dinar, Dirham dan Daniq dari Islamic Mint Nusantara, Indonesia dalam masa yang terdekat. Oleh itu bagi mereka yang berminat sila email saya di nizam@jentayuemastrading.com / jentayuemastrading@gmail.com

Spesifikasi Dinar, Dirham dan Daniq adalah seperti berikut:

1 Dinar 4.44 gram (Au/9999) Fine Gold

1 Dirham 3.11 gram (Ag/999) Fine Silver

1 Daniq 0.5183 gram (Ag/999) Fine Silver

Dinar emas tidak dapat digugat oleh mana-mana mata wang, termasuk dolar Amerika kerana ia merupakan satu bahan komoditi yang mempunyai nilai yang amat stabil.

Kesatuan dalam masyarakat Islam amat diperlukan dalam menjayakan Sistem Dinar Emas. Namun, masyarakat Islam kini gagal untuk membentuk perpaduan di antara mereka. Ini dapat di petik daripada kata-kata Tun Dr. Mahathir Mohamad dalam mengkritik masyarakat Islam kerana gagal bersatu walaupun untuk kebaikan ummah dengan katanya, “Walaupun kita mempunyai kekuatan seramai 1.3 bilion, kita tidak dapat mencapai apa-apa kerana daripada 50 negara Islam ini, setiap kali mereka bertemu, mereka tidak pernah bersetuju”. Kejatuhan ekonomi Asia pada tahun 1997 seharusnya dijadikan pengajaran oleh negara-negara Islam supaya lebih berwaspada dan jika boleh mengambil langkah-langkah yang konkrit bagi membendungnya sebelum ia berulang lagi. Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu selepas serangan AS ke atas Afghanistan, cadangan untuk menggunakan dinar emas harus diberi pertimbangan yang serius oleh negara-negara Islam. Bagi negara-negara Asia, penggunaan mata wang emas boleh dilaksanakan menggunakan nama-nama yang bersifat lokal dan setempat. Ia tidak semestinya dikenal sebagai dinar emas dan dirham perak, selagi konsep dan asas penggunaannya adalah berteraskan kepada sandaran kedua logam tersebut. Walaupun pada peringkat antarabangsa, emas menjadi salah satu daripada komoditi perdagangan yang popular, tetapi kestabilan nilainya sukar digugat oleh kegiatan spekulasi dan perubahan iklim politik dunia, berbanding saham dan bahan mentah pertanian.

Sunday, November 24, 2013

Penjelasan Tentang Mengapa Dinar Adalah 24 Karat Bukan 22 Karat Dari Abbas Firman


Bismillahirrahmanirrahim, Pada awal tahun 2010 IMN menerbitkan sebuah fatwa penting tentang mitsqal terkait timbangan berat dan kadar dinar dan dirham. Fatwa tersebut awalnya adalah sebuah otokritik yang ditujukan kepada IMN sendiri yang menyadari bahwa ada hal yang perlu dikoreksi dengan apa yang disebut standar dinar Islam sebagaimana mestinya menurut fikih dan tradisi awal Islam .
Fatwa IMN tersebut telah di dokumentasi dalam sebuah penjelasan mendasar yang ditinjau dari berbagai sudut penelitian sejarah, fikih, hadist, ijma, tafsir, penimbangan, arkeologis, ulama dan ahli metalurgi. Dokumen tersebut telah menjadi bagian dari sejarah pejalanan dinar dan dirham yang akan menjadi sumber pengetahuan bagi publik, silahkan baca penjelasan kami di sini Standar Dinar Dan Dirham Dalam Sejarah Dan Fikih Islam  dan kami terbuka untuk berkomunikasi akan hal ini agar menjadi lebih baik dan berguna bagi kepentingan muslim dimanapun. Penjelasan resmi saya ini adalah tanggapan terbuka setelah lima tahun fatwa tersebut dikeluarkan, berjalan dan berkembang, maka sekarang saatnya saya perlu meluruskan hal ini kepada publik tentang pendapat seorang penggiat dinar dan dirham yang tidak sepenuhnya benar.
Pendapat ini datang dari orang yang bernama Umar  Vadillo yang mengatakan bahwa dinar 24 karat atau koin emas murni hanya berumur 3 tahun, merupakan spekulasi. Diketahui dari bukti arkeologis berbagai koin emas murni yang ditemukan dapat bertahan selama 700 tahun peradaban manusia, dan tidak ada keluhan tentang hal kelembutan emas murni itu, salah satu bukti adalah ditemukan koin emas murni di masa Byzantium. Kembalinya dinar dan dirham murni juga terkait erat dengan pelaksanaan fikih zakat maal, Kembalinya Dinar Murni, Penjelasan Nishab Zakat Mal Dan Mithqal
Fatwa yang dikeluarkan oleh IMN tentu berdasarkan pertimbangan Ulama (fakih) yang memahami hal ini, ahli cetak dan ahli metalurgi sehingga sampai pada kenyataan dinar adalah emas murni dan dinar 24 karat dapat digunakan, dinar tidak murni oleh Imam Syafi’I disebut nuqud. Dari sisi amal dan kepraktisan tentu Allah yang menciptakan emas murni itu lembut sebagai sifat alami dan sebuah perlindungan dari pemalsuan. Dari penjelasan hadist atau tafsir al quran diketahui bahwa ilmu dan praktek teknologi pemurniaan emas pada masa dahulu telah dilakukan dengan baik. Dan hari ini teknik dasar yang sama digunakan juga dengan baik oleh pandai emas ataupun lembaga pencetakan emas, sehingga menghasilkan emas murni untuk dicetak kepada koin emas atau dinar. Tentang praktek (amal) kemurnian emas, dalam Islam ada sebuah istilah spesifik dikenal dengan sebutan mitsqal digunakan untuk timbangan khusus emas murni dan timbang untuk perak disebut dirham (7/10 mitsqal).
Dinar dan dirham telah digunakan sejak masa Nabi Adam alaihis salam, kemudian pada periode Nabi Idris alaihis salam (Hermes), dilanjutkan ke periode Nabi Nuh, ke periode Hud, ke periode Nabi Sholih, ke periode Nabi Dzulqarnain, ke periode Ashabulkahfi, ke periode Nabi Ibrahim, ke periode Nabi Luth, ke periode Nabi Isma’il dan ke periode Nabi Ishaq dan seterusnya dimana ukurannya sama, ini diketahui dari sanad pencetakan dan mitsqal yang kami terima dari Walisongo, silahkan dibaca Pentingnya Sanad Dan Pencetakan Dinar Dan Dirham Di Masa Rasulullah, tanpa sanad orang akan berbicara semaunya, berspekulasi adalah cara orang bodoh. Keimanan kepada para nabi-nabi dan apa yang dibawanya ini adalah bagian dari rukun Iman, tauhid murni kita, menolaknya adalah kefasikan. Dan tentu ilmu tentang logam dan pemurniaan ini sangat mudah bagi para Nabi dan terus bersambung hingga masa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Penjelasan di atas tentu berbeda dengan pendapat kedua ini dari Vadillo yang mengatakan bahwa dulu pada masa awal Islam belum ada teknologi pemurnian 24K, spekulasi inilah yang menjadi dasar argumentasi bahwa dinar 4.25 gram 22 karat sebagai ‘standar’ WIM, konsekuensi logis dari pendapat pribadi orang ini adalah secara tidak langsung ‘standar’ WIM ini mengikuti praktek umum jual-beli emas 22 karat dari pedagang emas perhiasan. Disisi lain Vadillo dengan cara berpikir praktis dan pragmatis, menjadikan koin Abdul Malik Bin Marwan sebagai dalih atas berat ‘standar’ WIM, dan tentu secara alamiah dia akan mengatakan berat itu tidak dapat dirubah, karena kalau dirubah gugurlah semua paradigma yang dia bangun selama ini. Jadi kemampuan pemurniaan saat itu sama baiknya dengan hari ini dan tentu dengan niat membuat dinar yang semurni mungkin, kita dapat temukan di Islam awal koin dinar dari dinasti Fatimid mencapai 98% kemurniaanya.
Melalui ijasah nasab pencetakan dan riwayat mitsqal tersebut diketahui bahwa mitsqal dari Abdul Malik bin Marwan adalah sama dengan masa awal Islam, diketahui dari bukti arkeologi dinar Abdul Malik Bin Marwan dengan mitsqal 4.4 gram berada di Museum Inggris.
Ironisnya dikemudian hari kami dapati bahwa apa yang disebut ‘standar’ 4.25 gram oleh WIM atau Vadillo ini bukan datang dari orang tersebut, sedangkan hasil penelitian langsung dari ratusan koin dinar dan dirham dari tahun yang berbeda dari Abdul Malik Bin Marwan telah dilakukan oleh pakar koin ANS Michael L. Bates yang menyatakan sebaliknya, tidak ditemukan secara tepat mitsqal 4,25 gram koin Umayyah masa Abdul Malik Bin Marwan yang mengikuti ketetapan wazan sab’ah atau 7/10, detail lebih lanjut silahkan di baca disini Memahami Mithqal Dalam Fikih Kontemporer Zakat Emas Dan Perak.
Apa yang diperintahkan Allah dan sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wassalam terkait zakat maal adalah menjadi dasar amal kita semua dalam mencetak dan menjaga mitsqal untuk timbangan berat dan kadar dari dinar dan dirham, bukan semata kepraktisan, dari situ kita menemukan berbagai hal yang menuntun kita kepada orisinalitas, karena tidak mungkin Allah memerintahkan urusan dien yang tidak mungkin dilaksanakan.
Dinar dipandang dari sisi kadarnya, atau takarannya, dapat dibagi menjadi dua yaitu yang mitsqali yaitu kadar kemurnian terbaik dari dinar dan ghoyru mitsqali yang kemurniannya kurang dari standar terbaik, karena memang sengaja dicampur untuk keperluan tertentu, misalnya perhiasan dan lain lain. Takaran berbicara mengenai volume atau kepadatan atau berat jenis bahan logam, yang menentukan isi atau konten atau muatan dari logam tersebut. Jadi meskipun suatu dinar telah memenuhi kaidah berat (timbangan) haruslah memperhatikan kaidah kemurnian (takaran) dari dinar tersebut.
Mengenai ketahanan dinar 24 karat yang dipersoalkan oleh orang tersebut, sebetulnya ini adalah pertanyaan balik untuk Vadillo dan beberapa bonekanya tentang apa yang dia disebut sebagai ‘standar’ WIM, menurut Vadillo atau WIM toleransi berat dinar tidak lagi menjadi 1 dinar jika berkurang 1% yaitu apa bila berat dinar jatuh di bawah 4.20 gram, maka yang kita lihat dari berat dinar 4.25 gram (916) ‘standar’ WIM sudah jatuh di bawah 4.20 gram, yaitu 3.89 gram emas murni (campuran tidak dihitung, dalam fikih zakat emas), artinya ini sudah tidak bisa dikatakan sebagai dinar, secara fikih zakat kontemporer tidak tercapai nishab, yaitu 85 gram emas murni (nishab terkecil). Pertanyaannya berikutnya jika WIM mengaku sebagai ‘otoritas’ standar dan dikemudian hari Vadillo atau WIM mendapat hidayah untuk merubah kadar dinar lebih tinggi atau sesuai yang digariskan oleh IMN, maka Vadillo atau WIM seharusnya bertanggung jawab untuk menarik dinar 4.25 gram (91.6) dari Kelantan, Malaysia atau dinar ‘standar’ WIM di Indonesia yang sudah cacat fikih sejak awal dicetak. Bukankah ini juga adalah bagian tanggung jawab terhadap kepentingan umum?
IMN sebagai pencetakan mandiri dan metalurgi, sudah mempunyai teknologi untuk membuat daya tahan koin dinar murni kuat tanpa mengurangi kemurniaan dengan cara yang sederhana dan ramah lingkungan, dan dari sisi fikihpun itu mempunyai landasan yang kuat dan bisa dipertanggung jawabkan, itu hal yang mudah bagi kami untuk melakukannya. Sebaiknya Vadillo dan kumpulannya tidak perlu mengurusi pencetakan karena bukan bidangnya. Kami sebagai pencetakan telah mempelajari berbagai teknik dan hal tersebut, kedepannya siap menerapkannya dengan teknologi terkini, memberikan keseimbangan yang baik antara kemurniaan dan kekuatan orisinil dari emas murni tersebut. Sedangkan sekelompok ulama (fakih) perlu disiapkan dan yang ulama sesungguhnya tidak berdiri di atas kepentingan kelompok, serahkan saja urusan pencetakan kepada ahlinya.
Kembalinya dinar dan dirham, memerlukan barisan yang teratur dan saling mengisi, salah satunya ada pencetakan dengan ongkos yang efisien bahkan kalau bisa rendah, tidak perlu lisensi, dan tidak membuat diskriminasi koin dengan alasan di luar fikih Islam. WIM dalam hal ini sudah jelas bukan otoritas standar, dan juga bukan juga ahli pencetakan. Untuk hal tersebut saya rasa sudah sepatutnya Vadillo dan teman-teman itu mengurusi hal lain saja selain pencetakan koin. Sebagai teman lama yang bersama meperjuangkan dinar dan dirham sejak awal, saya sarankan Vadillo untuk mendalami lagi ushul fikih, bahasa arab dan mempraktekan adab sesama muslim, karena urusan thariqah adalah adab, baru ilmu.
Untuk menerapkan teknologi super alloy diperlukan persiapan matang dan otoritas yang perlu hadir adalah Sultan yang kuat lahir batin untuk mengatur hal ini agar segera berjalan dalam kondisi sebagaimana mestinya, saya setuju tentang otoritas tunggal dalam hak untuk mengatur dan memayungi berbagai urusan Islam, salah satunya adalah pencetakan, wakaf, baitulmal, peradilan dan sebagainya, otoritas itu seharusnya dipegang oleh Sultan yang berdaulat, memiliki wilayah yang jelas, sumber alam, kekayaan, dukungan ulama dan mempunyai silsilah keturunan yang juga benar (murni) yang diakui oleh ahli nasab. Jadi otoritas tersebut saya rasa bukan WIM dan beberapa boneka yang kadang bertingkah lucu. Kalau anda bisa tunjukan siapa Sultan di Indonesia, Brunei, Singapore, Malaysia, India, Pakistan ataupun Spanyol dengan kriteria di atas silahkan hubungi saya atau IMN.
Saat ini dinar 4.44 gram (9999) telah beredar karena memang sudah seharusnya begitu, kewajiban kita muslim Nusantara adalah mendukung pencetakan mandiri Islamic Mint Nusantara dengan wakaf dan berbagai bantuan agar kami tetap dapat melaksanakan fungsi pencetakan dan perawatan yang selama ini sudah berjalan. Karena itu koin yang nanti rusak, berkurang berat dan aus ditarik lalu dilebur kembali, kemudian dicetak menjadi koin baru. Jadi kamu tidak perlu menjadi makelar koin yang dicetak di Dubai ataupun Khazakstan. Saya harap hal yang dilakukan Vadillo dan WIM seperti yang telah terjadi di Indonesia dan Malaysia tidak terjadi dengan muslim di Pakistan.
Mengenai hal pemalsuan koin, teknik cetak, fitur keamanan dan teknologi cetak secara umum sudah dapat dilakukan lebih baik hari ini, tapi bukan dengan hologram. Berdasarkan penjelasan praktisi cetak koin di IMN yang mempunyai pengalaman dan beberapa orang pencetak terbaik dari beberapa generasi menyatakan bahwa hologram bukanlah bagian dari perlindungan terbaik untuk pemalsuan koin, hologram dalam dunia koin adalah untuk hiasan (fancy) bagi koin koleksi ataupun medali. Hologram hanya akan menambah biaya cetak yang akan ditanggung pengguna dan dalam waktu singkat warnanya akan hilang jika digunakan dalam koin sirkulasi. Jadi dengan cara sederhanapun teknik perlindungan terbaik terhadap pemalsuan koin telah dipraktekan secara umum dan khusus yang tidak perlu terlihatpun sudah umum dipraktekan, dan hal ini hanya diketahui oleh pencetak dan ahli metalurgi IMN.
Fatwa IMN secara mendasar ditulis dalam kaidah dan dalil fikih yang jelas di ikuti penjelasan dari berbagai sudut terhadap dinar dan dirham Islam, fakta otentik yang diteliti langsung ataupun tidak langsung telah dipaparkan, juga secara umum dapat diterima dengan baik dan dalam kepraktisan satuan timbangan hari ini gram ataupun troy ounce juga berlaku umum. Ini sebuah pilihan bagi kepentingan umum.
Saya dapat memahami ketidaksepakatan Umar Vadillo terhadap Fatwa penting IMN dan dia menanggapi sebagai pendapat pribadi, dan bagi kami pendapat pribadi Vadillo memang juga bukan bagian dari Hukum Islam, sedangkan argumentasinya juga tidak memadai untuk menjawab fatwa IMN sebagaiman mestinya. IMN dan muslimpun tidak perlu persetujuan WIM atau Vadillo atau bonekanya di Indonesia. Itu sudah cukup jelas.
Kesimpulan yang saya berdasarkan pengalaman sejak awal urusan  selama empat belas tahun terkahir  terkait pencetakan dan perkembangan dinar dan dirham adalah :
  1. Apa yang disebut standar 4,25 gram (91.6) dari WIM dan Umar Vadillo tidak pernah diteliti langsung dan itu hanya diklaim sebagai ‘standar’ mereka . Sedangkan penetapan standar 4.25 gram (9999) itu adalah didasarkan pada fikih zakat kontemporer dimana ulama modern menyamakan dinar dan dirham kepada uang kertas dan ini menjadi rujukan perbankan syariah dan ekonomi syariah maka diambil nishab terkecil yaitu 85 gram emas murni.
  2. Dalam kesempatan ini kami ingin mengingatkan kembali kepada masyarakat muslim di Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapore dan Pakistan bahwa dinar 4.25 gram 22 karat ‘standar’ WIM itu cacat fikih secara berat dan kadar, tidak tercapai nishab 85 gram emas murni dari apa yang ditetapkan dari fikih zakat kontemporer. Dan tentu kita tidak bisa merubah nishab zakat emas sebesar 20 mitsqal emas murni dan zakat perak sebesar 200 dirham perak murni.
  3. Dinar atau mitsqal murni bukanlah hal yang baru, secara faktual koin emas murni atau dinar adalah pilihan terbaik, seperti telah dijelaskan di atas tidak mempunyai masalah dengan ketahanan. Dalam hal kepentingan umum, saat ini dan yang akan datang bahwa dinar 24 karat (premium rendah) jelas lebih mudah dicairkan (buyback) dimanapun, karena harga emas murni relatif lebih sama dimanapun, standar mitsqal yang telah ditetapkan IMN berlaku umum dan setara dengan satun gram dan troy ounce sehingga dapat memudahkan muamalah ( jual-beli) atau pertukaran dinar dengan koin emas diluar Islam.
  4. Masyarakat mempunyai pilihan yang lebih baik dengan hadirnya Dinar 4.44 gram (9999), kelembutan emas murni itu adalah sebuah standar praktis dan perlindungan alami dari pemalsuan yang diberikan oleh Allah kepada emas dan perak sebagai pengukur nilai, bukan kepada logam lain.
  5. Yang terpenting dari semua alasan yang menjadi dasar pilihan kita adalah semua dimulai dari niat diiukuti keimanan dan ketakwaan yang murni, bukan yang selain itu.
Semoga penjelasan singkat ini dapat mengingatkan masyarakat muslim dan umum di Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapore, Pakistan dan dunia pada umumnya yang mengikuti hal ini untuk menggunakan pilihan dinar dan dirham murni yang memenuhi kaidah fikih dan dalil syara atau koin emas dan perak lainnya yang setara dalam berat dan kadar.
Allah adalah maha lembut (latif) memberikan petunjuk kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Tunjuki kami selalu jalan yang lurus, yang membuat kami sampai kepada kemurniaan cinta dan itulah jalan kemenangan. Tujuan kita adalah Allah, ya awwalu ya akhiru ya dhahir ya batin. Allah huma ya Allah kami mohon untuk kita semua yang memperjuangkan Islam murni, selalu dikumpulkan bersama wali-walimu dimanapun berada, bersama para arifin, shalihin dan shiddiqin. Amin
Lampiran ini juga saya tujukan kepada saudara kami: Mufti Kesultanan Palembang Shaykh Faroji Azmath Khan (Indonesia), Ahmad I. Adjie (Indonesia), Prof. Dr. Ahamed Kameel Mydin Meera (IIUM, Malaysia), Assoc. Prof Ahmad Badri Ismmail (USM, Malaysia) Norbaini Hassan (Malaysia), Haji. Nik Mahani Mohamad (Malaysia), Aidawati Dahari (Malaysia), Amirul Haji Mohammad (Malaysia), Utstad Abdul Halim (Persatuan Ulama Singapura), Prof Tariq Khan (Capetown, Afrika Selatan), Muhamad Nizam Shaidon (Jentayu Mas, Malaysia), Aman Tahir (CEO SRDC, Brunei), Prof Dr. Muhammad (Indonesia), Wan Aiunun Zarina Dan Wan Ahmad Radzi ( Malaysia), Utadz Abdul Shakur Brooks (Canada), Mahendra Sutomo (Dinarfirst, Indonesia), Arash Rashid (Dinarpal, Malaysia) dan Herman Sinung Janutama (Indonesia) Saleh Eko Marwoto (Indonesia) dan Anam Al Habsyi (Indonesia) dan Tim Teknis Dinar dan Dirham Antar Bangsa.

Sunday, October 27, 2013

"OUR" (FIAT) MONEY IS SOUND




  • Those who CONTROL the CURRENCY will CONTROL the ECONOMY
    Those who CONTROL the ECONOMY shall CONTROL the WORLD

    Components of today’s conventional economy

    Based on Capitalist – meaning capital
    Capital – translated as Money
    Money – Fiat (sanctioned by authorities without intrinsic value)
    Money Expansion – through Interest (RIBA) system or better know as Credit system.
    Promote and Supported by – World Bank and International Monetary Fund (IMF) with support from all Central Banks in the world
    Result – Biggest “LEGAL” OPPRESSORS in the World

    Price Issue…When will it stop increasing???????????????

    Common Answer to the latter. Which is actually misleading :-

    i) Inflation rate
    ii) Time value of Money
    iii) Volatility in the Market
    iv) Supply & Demand
    v) Speculation

    HOW CAN THE DINAR AND DIRHAM BECOME CHAMPION IN THE INTERNATIONAL TRADE?

    . The value stay’s
    . Can store value
    . No fluctuation
    . Zero inflation
    . Anti speculation

Sunday, June 9, 2013

Implikasi USD terhadap Ringgit Malaysia





Kenapa setiap kali meningkatnya nilai Ringgit Malaysia terhadap Dollar Amerika Syarikat, maka ekonomi Malaysia dianggap sedang kukuh? Sebaliknya, bila nilai Ringgit merosot, maka ekonomi Malaysia dianggap sedang merudum? Apakah pemulihan ekonomi suatu negara patut disandarkan pada naik-turunnya nilai wang mereka terhadap Dollar? Bagaimana kalau peningkatan Ringgit berlaku bersamaan dengan kemerosotan Dollar, apakah masih memiliki implikasi yang sama? Tentu jawapannya tidak. Dengan lain perkataan, ketika nilai Ringgit stabil dan Dollar  mengalami kemerosotan-seolah-olah nilai Ringgit meningkat dengan sendirinya.

Jadi, mengukur kadar pemulihan dan pertumbuhan ekonomi negara berdasarkan peningkatan atau kemerosotan nilai  wang domestik terhadap Dollar adalah suatu kaedah yang keliru.

Kenapa Dollar tidak boleh dijadikan sebagai kayu ukur kestabilan, kemakmuran dan juga pertumbuhan ekonomi? Ini kerana Dollar bukanlah mata wang yang terjamin kestabilannya. Tidak stabilnya nilai Dollar adalah, inter-alia, disebabkan perubahankadar inflasi dan adanya tindakan spekulasi dalam pasaran wang. Ini semua akan mempengaruhi jumlah  permintaan dan penawaran Dollar. 

Bahkan penggunaan Dollar akan menyebabkan nilai wang domestik semakin merosot dan perekonomian negara semakin tidak stabil. Sebagai contoh, keterpaksaan Indonesia untuk membiayai pembangunan negara bersumber dari hutang pada negara-negara maju di mana proses peminjaman dan pembayaran hutang yang melibatkan Dollar, tentunya akan semakin melemahkan nilai Rupiah pada khususnya dan juga ekonomi Indonesia pada amnya. Semakin banyak permintaan Dollar, maka akan semakin tinggi nilai Dollar di pasaran wang. Sebaliknya, semakin banyak jumlah Rupiah yang ditawarkan, maka nilai Rupiah akan semakin merudum. Ini semua tidak akan berlaku andaikata kita menggunakan Dinar (emas) dan Dirham (perak) sebagai mata wang negara.

Friday, April 12, 2013

Dinar Emas dan Kerajaan





Dalam Islam mata wang sememangnya saling berkait rapat dengan Kerajaan. Ibn Taymiyyah juga ada mengulas tentang krisis kewangan yang dihadapi oleh kerajaan Mamluk dan wang Dinar Emas dan Dirham Perak digunakan di kalangan umat Islam sehinggalah kejatuhan kesultanan Uthmaniah.

Wang sejati yang bebas daripada spekulasi dan manipulasi menandakan bahawa kerajaan juga merdeka dan bebas daripada penjajahan.Kemunculan Dinar Emas adalah suatu rahmat bagi memperkasakan Institusi Melayu Islam Beraja.

Sejarah telah membuktikan   bahawa tamadun Kesultanan Melayu telah memartabatkan Dinar Emas sebagai Wang Sunnah sejajar dengan kehendak agama dan pencetus kepada kemasyuran Kerajaan Melayu Islam Nusantara suatu masa dahulu.

Jika dilihat dari segi sejarah, sistem kewangan yang berteraskan emas sudah berlangsung selama lebih kurang 1353 tahun iaitu bermula pada zaman Rasulullah SAW iaitu 571 Masihi sehingga tahun 1924. Manakala sistem wang kertas hanya berlangsung selama 87 tahun iaitu bermula dari tahun  1924 sehingga ke hari ini 2011 dan telah menyaksikan beberapa krisis kewangan berlaku.

Tuesday, February 26, 2013

Mahathir dan Malaysia



Di bawah pimpinan Dr. Mahathir, Malaysia dikenali sebagai sebuah negara membangun yang lantang, tegas, berprinsip dan sentiasa berani menyarankan ketidakadilan kuasa besar. Dr. Mahathir juga akan sentiasa diingati sebagai pemimpin yang mempunyai keupayaan menewaskan hampir kesemua musuh politik Malaysia di peringkat antarabangsa dari Margaret Thacher, Paul Keating, Al Gore George Soros hinggalah ke jutawan media seperti Rupert Murdoch dan pengarang utama Britain, Andrew Neil. Senarai yang ada sebenarnya cukup panjang untuk menggambarkan kekuatan Dr. Mahathir sebagai pemimpin dunia.
Dua bulan selepas Dr. Mahathir memegang jawatan Perdana Menteri berlaku serangan mengejut ke atas Bursa Saham London. Malaysia (melalui PNB) mengambil alih Guthrie Corporation. Apa yagn dipanggil sebagai serangan waktu subuh itu memaksa Britain mengubah undang-undang bersangkut paut jual beli saham di bursa Saham London.
Seluruh dunia memerhati dengan teruja kejutan Dr. Mahathir ke atas Britain. Setahun kemudiannya Dr. Mahathir mengumumkan kepada Perhimpunan Agong UMNO, hasrat untuk mengambil kembali Carcosa Seri Negara yang masih di bawah kerajaan Britain pada masa itu. Sungguhpun hanya pada lewat 1984 berjaya namun ia merupakan hentakan keras Dr. Mahathir keatas orang Melayu dan rakyat Malaysia keseluruhannya.
Dr. Mahathir bermula dengan memalukan Britain di Britain, kemudiannya meletakkan pembersihan imej penjajah di dalam negara. Rakyat telah disediakan dengan psikologi bahawa Malaysia telah bersedia untuk keluar dari kerendahan diri dan terhutang budi kepada bekas penjajah-British. Serangan ke atas Bursa Saham London seolah-olah strategi awal Dr. Mahathir menyediakan minda rakyat ke arah yang lebih global.
Pada 1983, Dr. Mahathir telah mengejutkan Britain dengan dasar Buy British Last. Bayangkan selepas sebuah syarikat milik negara kecil seperti Malaysia mengambil alih sebuah syarikat perladangan Britain, ia kemudiannya mengisytiharkan dasar Buy British last. Kedua-dua kejutan ini membuka mata negara bekas penjajah ini. Begitu pun hubungan Malaysia-Britain tidaklah menjadi semakin buruk. Sebaliknya mengundang rasa hormat daripada Britain dan hubungan kedua-dua negara memasuki era baru yang lebih sama taraf berbanding hubungan bekas penjajah dengan bekas tanah jajahan.
Sejak peristiwa ini Dr. Mahathir tidak lagi menoleh kebelakang lagi dalam soal hubungan luar. Selepas mengukuhkan ekonomi dan politik dalam negara, era kepimpinan Dr. Mahathir pasca kemelesetan ekonomi 1986 dan pertelingkahan politik 1988 (pengharaman UMNO), menyaksikan Malaysia memainkan peranan yang berkesan dan tegas di peringkat antarabangasa.
Pada 1986 Dr. Mahathir menghalau dua orang wartawan Asian Wall Street Journal kerana memburuk-burukkan Malaysia. Malangnya Dr. Mahathir ketika itu telah bersedia dengan dasar pandang ke timur melihat tanpa pelaburan Amerika Malaysia masih mampu membangun pesat dengan pelaburan dari Jepun. Apatah lagi ketika itu Jepun sedang membesarkan ekonominya. Beberapa tahun kemudian, The Times dengan Tajuk Sayonara America memberi fokus bagaimana Amerika Syarikat telah menghadapi kerugian besar kerana membiarkan Jepun menguasai pelaburan di Malaysia.
Dasar luar Malaysia di bawah pimpinan Dr. Mahathir sungguhpun meneruskan kelangsungan asas yang diletakkan oleh tunku yang cenderung ke arah negara membangun, negara-negara berkecuali dan negara-negara Islam, Namun cara dan gaya diplomatiknya cukup berbeza. Dr. Mahathir jelas mempunyai perancangan yang besar untuk Malaysia memainkan peranan di pentas dunia.
Berbanding Nehru, Sukarno dan Tuito yagn memilih untuk menjadi kurang senang dengan Amerika atau kuasa Barat, Dr. Mahathir adalah sebaliknya. Ia tidak mahu manjadi pak turut Amerika seperti Jepun dan juga anti barat seperti Sukarno. Dr. Mahathir mengamalkan dasar diplomatik pragmatik. Beliau boleh menjadi sekutu Amerika dalam hal yang dipersetujui dan beliau boleh menjadi musuh Amerika dalam hal yang lain.
Ketika sentimen umat Islam di Malaysia bersimpati denga Iraq, Dr. Mahathir memilih untuk menyokong Amerika membebaskan Kuwait pada 1991. Malaysia di bawah pimpinan Dr. Mahathir sedar bahawa tidak ada sebuah negara lain wajar dibenarkan menakluki negara lain seperti Iraq lakukan ke atas Kuwait.
Sungguhpun sentimen dalam negara amat memuncak namun Malaysia yang ketika itu merupakan anggota Majlis Keselamatan PBB memilih untuk menyokong pengusiran Iraq dari bumi Kuwait. Satu Perhimpunan Agung Khas UMNO mengenai isu ini terpaksa dipanggil untuk Dr. Mahathir menerangkan mengapa Malaysia perlu menyokong tentera bersekutu (PBB) pimpinan Amerika. Beberapa tahun kemudian Pertubuhan Pembebasan Palestin (PLO) pimpinan Yaser Arafat yang turut tertipu dan menyokong Saddam Hussein terpaksa meminta pertolongan Dr. Mahathir memulihkan hubungan PLO dengan negara-negara Arab dan Amerika.
Sedekad kemudian Dr. Mahathir juga yang paling lantang menentang pencerobohan tentera Amerika ke atas Iraq. Kali ini kerana Amerika dan Britain bukan sahaja tidak mempunyai sebab yang jelas malah tidak mendapat kelulusan PBB. Namun penentangan Dr. Mahathir tidak menjadikan beliau sebagai anti-barat. Beliau bukan sahaja sanggup belajar dari Barat malah mengadakan kunjungan rasmi ke Amerika, Britain dan lain-lain negara Barat.
Salah satu kekuatan Dr. Mahathir di peringkat antarabangsa ialah kecekapan dan kebijaksanaan beliau menangani media antarabangsa. Kehebatan Dr. Mahathir berhadapan dengan media antarabangsa sering menjadi satu kekaguman kepada penulis.
Beliau tahu di mana dan bagaimana untuk mematikan hujah media Barat dan menjadikan mereka menghormati beliau. Salah satunya ketika beliau menghadiri Sidang Negara-negara Berkecuali (NAM) di Indonesia 1992. Media asing yang ketika itu cuba menonjolkan beliau sebagai diktator bertanya mengenai tangapan bahawa beliau adalah Little Sukarno. Dr. Mahathir memberi satu jawapan yang cukup tajam di negara saya sendiri pun, saya hanya disifatkan sebagai Mahathir Kecil.
Ketika berhadapan dengan media Australia beliau ditanya bagaimanakah cara memulihkan hubungan Malaysia-Australia, Dr. Mahathir dengan tenang menjawab, apabila anda berkelakuan baik hubungan kedua-dua negara akan menjadi baik. Jawapan ini sangat tepat dan sinis kerana kekeruhan hubungan Malaysia-Australia berpunca daripada media negara tersebut yang sering menyerang polisi dan kepimpiman negara ini.
Dr. Mahathir juga mempunyai hubungan yang cukup akrab dengan negara-negara besar di luar lingkungan anglo-saxon (Inggeris). Hubungan akrab dengan Perancis, Jerman memberikan Malaysia kekuatan dalam memastikan pandangan dan tindakannya di peringkat antarabangsa sentiasa mempunyai impak dan juga selamat.
Lihat sahaja dalam isu Yahudi baru-baru ini yang menjadi isu besar di peringkat antarabangsa. Usaha Kesatuan Eropah untuk mengecam kenyataan Dr. Mahathir bahawa yahudi menguasai dunia melalui proksi telah dihalang oleh Jacques Chirac, Presiden Perancis.
Dr. Mahathir menentang Forum Kerjasama Asia Politik (APEC) tajaan Amerika Syarikat kerana berpendapat Amerika tidak perlu masuk campur dalam ekonomi Asia Timur. Beliau merupakan seorang Ketua Negara kecil bukan sahaja menentang malah memboikot persidangan pertama yang berlangsung di Seattle, US. Namun menyedari kepentingan Malaysia setelah, beliau menghadiri persidangan seterusnya yang di adakan di luar Amerika. Dr. Mahathir tahu di mana had dan sempadan ketegasan bagi sebuah negara seperti Malaysia.
Wartawan Daily Telegraph, Ian Steward, pernah menyimpulkan hubungan Dr. Mahathir dengan Barat sebagai keghairahan yang bercampur dengan pragmatisme. Menurut wartawan tersebut lagi, Dr. Mahathir telah menunjukkan kemahiran diplomatik yang tinggi dengan menamatkan segera sengketa itu (perbalahan dengan Paul Keating) setelah beliau mengekslpoitasikan sepenuhnya isu itu bagi kepentingan politik tanpa menjejaskan ekonomi negaranya sedikit pun. (Zainuddin Maidin : Mahathir Di Sebalik Tabir, 1995). Inilah kekuatan Dr. Mahathir.
Dr. Mahathir seolah-olah Mahaguru dalam politik antarabangsa. Beliau tahu bila, di mana dan bagaimana untuk memastikan Malaysia boleh menjadi suara dunia ketiga dan dalam masa yang sama tidak membahayakan ekonomi negara. Justeru Dr. Mahathir bukan setakat berani tetapi cukup bijak. Ramai pemimpin boleh menjadi berani menentang Amerika tetapi tidak bijak hingga akhirnya negara dan rakyat mereka menjadi mangsa. Libya, Iraq, Sudan, Iran mewarisi kepimpinan berani tetapi tidak mempunyai kebijaksanaa. Mereka jarang memenangi perbalahan dengan Barat.
Kehebatan Dr. Mahathir juga adalah kerana anugarah Kebijaksanaan Allah kepada beliau. Suka untuk kita mencari pemimpin dunia yang mampu bercakap pelbagai ilmu atau bidang secara spontan. Inilah kelebihan Dr. Mahathir dan menjadikan beliau dihormat di pentas dunia.
Dr. Mahathir bersara dengan meninggalkan kepimpinan Malaysia satu asas yang kukuh dalam hubungan antarabangsa. Di peringkat ASEAN juga Dr. Mahathir deanggap sebagai pemimpin utama kawasan ini.

Tuesday, January 29, 2013

LIBOR


 
 Written by chedet
1. The world is Eurocentric. We trust Europe and Europeans almost unreservedly. The standards are set by them and we follow these standards unquestioningly. 2. Thus banking! The so-called conventional banking system was invented by the Europeans. Today the whole world accepts and practices this banking system.
3. Lately the Islamic banking (no interest) system has been introduced. But it is no match for the Western initiated “conventional” banking system.
4. But we now know that the current financial crisis affecting the West is due to the Western banking system or more precisely its abuse. That it can be abused means that it is not the perfect system it is made out to be. 5. We have heard about sub-prime lending, leveraging, derivatives, securitisation, bundling and insuring etc etc.
6. Now it is the turn of the LIBOR – the London Interbank Offer Rate – the rate of interests which banks may be guided by.
7. We thought the rates were fixed in heaven and no one should question them. But now we read that a number of European banks had fixed the rates so they can increase their profits. And this is considered to be wrong, to be price fixing.
8. The banks involved are the big ones, the ones which cannot be allowed to fail, the ones which are supposed to be honest. They were cheating.
9. The press reports that they were fined. By whom? By the United States of America. And they have paid the fines to America.
10. The question is, is it only America which suffered and lost money due to the fixing of the LIBOR by the major banks of Europe. Do these banks lend money only to America? I don’t think so. The UBS (Union Bank of Switzerland) lent money to Europeans and Asian countries as well.
11. If America lost money through the operation of the LIBOR surely other countries which borrowed money from the banks which fixed the rates must also lose money. But these other countries have not been paid by any of the banks which fixed the rates together with UBS. Why is America privileged when other countries are not-compensated? Why aren’t the other countries instituting legal action to find these banks guilty and fixing the fines that they must pay.
12. We in Malaysia, I believe are also guided in fixing interest rates by LIBOR. But I don’t think our banks participated in fixing the rates. Our banks may or may not have benefited from being guided by LIBOR. But they are not guilty. The borrowers have no claim on them.
13. Banking is a shadowy business. People do not really know what they are doing. We accept that the loans they give out help to create wealth. Certainly the amount of money in circulation is very much bigger than the money issued by the Government.
14. The banks’ rights to create and lend money are obviously necessary if the economy is to grow and wealth generated. But power corrupts and the right to create money is a very important power conferred on the banks. But banks need not be too secretive. We need to know the limits of their power. It is the unlimited power that banks exercise that lead to the sub-prime loans and the consequent financial crisis in America and Europe.
15. When banks abuse their power the public and the nations have to pay a high price. In the case of America and Europe four years have passed and we still don’t see the light at the end of the tunnel.
16. If we are to avoid a recurrence of the crisis; if Malaysia wants to remain free of a similar crisis we need to know more about the rules of banking and the limits of their privilege.
17. I am writing this as a layman. I know my knowledge about banking and finance is negligible. But I feel the need to express the opinion of the ordinary man who may have to pay a high price while banks abuse the power vested with them.

Source : http://chedet.cc/?p=49#more-49

 

Thursday, January 24, 2013

Al-Maqrizi On The Role of the Dinar and Dirham as Money

In this writing, we will attempt to look into Islamic history to undestand what is happening today, particularly to trace the ideas and thoughts about money and the worthless paper money or fulus, its role as a medium of exchange and how it impacted general economic activities. Among the scholars the Shafi’te Taqi al-Din Ahmad ibn ‘ Ali al-Maqrizi stands out as the most vocal critic of the Circassian monetary policy. It is thus, imperative to highlight al-Maqrizi’s ideas on money, the monetary system and his proposal for monetary reform so that our objective in returning to the gold dinar standard can achieved in a more convincing fashion.

Al-Maqrizi full name is Ahmad bin Abd al-Qader bin Muhammad bin Ibrahim bin Tamim al-Bali al-Abidi al-Hsini. He was also known as Taqi al-Din al-Maqrizi. He was born in Cairo in 766 AH/ 1364 AD and died o­n Thursday 26 of Ramadhan 845AH/1441 AD. He was buried in Friday in Hush al-Sufiah al-Bibarsiah in Cairo. Al-Maqrizi was exceptionally fortunate in that his grandfather from his father’s side Shaikh Muhi al-Deen al-Qader (732/1331) and his grandfather from his mother’s side Shamsul-Din ibn Saiqh (786/1384) were scholars in Hadiths, Arabic and Fiqh. Even when al-Maqrizi was still young he accompanied his grandfather to classes held by scholars. He received his formal education in Cairo where he studied the Quran, Prophet Muhammad traditions and other branches of Islamic studies such as dialectical theology, usul-fiqh. He also studies Arabic literature, philosophy, mathematics and astronomy. one of the famous teachers of al-Maqrizi was Ibn Khaldun.

Al-Maqrizi devoted most of his life to his literary work in the field of history and biography. Like all other scholars al-Maqrizi held academic posts in important schools (madrassas). He was first appointed by Sultan Barkuk to teach Hadiths in Muayyadiah School in Cairo. Al-Maqrizi also served the government of the mamluk under Sultan Barkuk. He began his career as a government officer in Diwan al-Insha in 791/1388 AH. He was promoted from the periphery of the mamluk bureaucracy to its center. He worked as a Qadi of the Shari Mazhab. Later he was Imam of the Mesjid al-Hakim al-Fatimi. Al-Maqrizi quickly moved up to his exceptional capabilities and receved his most important appointment as the Muhtasib (Ombudsman) of Cairo and al-Wajeh al-Bahri of Sultan Barquq (801/1398). He was responsible for the conduct of the markets and the control of the merchants. The post of Muhtasib in Cairo is the highest position among other muhtasib. After spending ten years in Damascus, al-Maqrizi moved to Cairo and withdrew from all government post. He lived a life of fame and respect for the rest of his life. He devoted himself to research in Islamic history wher he made his house as a center for teaching until his death in 845 H/ 1441 AD).

Why Fulus (Copper Coins) Were Used to Replace the Dinar and Dirham as Money?
 
In the Islamic Dinar system the role of fiat money as a medium of exchange will be replaced by dinar-backed money. By definition, fiat money is money not redeemable for any commodity and its status as money is conferred by the government. In Islamic history, the introduction of copper coins or fulus as money by the Mamluks (648/1250) coupled with famine created a period of high inflation or ghala’, leading to its downfall. The fulus unlike the dinar can easily be produced at will. Without control, excessive supply of copper fulus leads to spiraling inflation. The same applies in modern times when excessive fiat money creation created overspending and asset bubbles.

The hyperinflation during the Mamluk dynasty is caused by the monetary system, namely the use of fulus as money. In addition, al-Maqrizi also believe that inflation is also caused by non-monetary factors such as monopoly and hoarding and rising cost of production. Since money was the main cause of hyperinflation, it is worthy to examine al-Maqrizi’s view on money.

In the Ighathat al-Ummah bi-kashf al-ghummah, al-Maqrizi examined money in Islamic history. Gold and silver were used since the beginning of the Prophetic era and throughout the rule of the Khalifa Rashidin. In the Ighatat al-Maqrizi said:
“The currency that was in circulation among the Arabs in pre-Islamic times consisted if gold and silver only. From other countries, the Arabs received gold dinars, among which were the imperial dinars from the Byzantine empire. The dinar was called dinar because of its weight, but it was also a coin. When God sent forth His prophet Muhammad, the Prophet confirmed all these weights used by the inhabitants of Mecca and said: ‘The weight is that of Mecca’ abd according to another version 9he said0: ‘The weight is that of Medina’. The Messenger of God prescribed the Zakat on money accordinly: for every five uqiyahs of pure and unadultered silver he imposed a zakat of five dirhams, i.e equivalent to o­ne nawat and every twenty dinars he imosed half a dinar”. This system was adopted without the slightest alteration by Abu Bakar during his tenure as caliph, following the death of the Messenger of God. When Umar ibn Khattab became caliph, he kept the currencies as they were and did not alter them until the year 18/639-40 during the sixth year of his caliphate..”

During the Ummayad, we can find that the original coins of 1 mithqal is 4.44 gram (the standing chaliph coins), on the time of Abdulmalik bin Marwan he change the 1 mithqal to 4.25 gram or in other words he decreasing the weight (debasement), later Khalifah Umar bin Abdul Aziz made a correction and he said that the Dirham of Abdulmalik bin Marwan is not 7/10 but 7/10.5, during this time the purity of the dinar is well maintained. The debasement of purity of money however, began during the end of the Abbasid era when the ruling government is weakening. By debasement, the pure gold content in the dinar became less. Greshem’s law stating that bad money chase away good money is the order of the day. The Egyptians under the Fatimid rule also used gold. When Eqypt under Ayubi took power from Fatimi and made aligience to Abassid, he introduced silver (dirham) while keeping gold in government treasury. In this early period of the Mamluk, currency system under the dinar and dirham is still intact. However, in the later period the system began to use the fulus (copper) as money eventually leading to hyperinflations and widespread poverty. The crisis or ghala was described in all of al-Maqrizi’s four books.

Al-Maqrizi provided some explanations behind the adoption of the fulus over the dinar and dirham in the late Mamluk era. First, there was scarcity in silver (dirham) partly due to international trade where merchants took out silver out of the country to make payments. Silver was also used make decorative and luxurious household and palatial items as well as utensils. In this manner, the amount of silver dirham currency in circulation became more scarce. Maqrizi was against the idea of using gold and silver as commodity or article of trade. It can only be used as money. To make matter worse, the government had been storing gold in the treasury, thus limiting the amount of gold dinar in circulation.

Secondly, when the dinar and dirham were in short supply, the level of economic activity declined since people have less currency to execute their daily transactions. To alleviate further decline in the economic activities the government began to import large quantities of fulus (copper) to be used as currency or money since they are cheaper and abundant in supply.

According to al-Maqrizi, the introduction of the fulus was initiated by Sultan Barkuk during the second period (1382 -1399 AD ) of the Mamluk rule. In the Nuqud, al-Maqrizi observed:
“During the time of Barquq, his wazir increases the quantity of fulus. Traders from the western Europe (firanj) brought red copper to Cairo to sell them to the government to make profit. The minting of fulus in large quantities continued for many years. These firanj took away silver dirham from Eqypt to their countries. The people of Egypt converted silver dirham into decorations and utensils for both personal and business purposes. These incidents continued until it is rare and difficult to find silver (a’zat). Meantime, fulus is found in abundance and serve as money and the measure of value”.

When Sultan Barkuk died 801 Hijrah, prices began to increase. The changes in the price level can be classified into three stages. In the first stage (801-805 H) price increases but not sharply. In the second stage (806-814 H), the economy was struck by hyperinflation. In both stages, the country is ruled by Sultan Faraj bin Barkuk. In the Ighatat, al-Maqrizi desribed the situation:

“This continued until the death of al-Zahir Barquq in the middle of Shawwal 801/20 June 1399. on that date, in Cairo, o­ne irdabb of wheat is sold for less than thirty dirhams. The next day its price reached fourty dirhams. Prices continues to rise until o­ne irdabb of wheat sold for more than seventy dirhams in the year 802/1399-1400″

The inflation was further aggravated by natural calamities when the River Nile failed to flood in 806/1403-4. Excess supply of the fulus exceeded the depleting supplies of food and commodities due to the famine. Al-Maqrizi says:

“Wheat prices remained at this level (seventy dirhams) until the Nile failed to reached its plentitude in 806/1403-4. This led to calamity: prices soured so high that the price of o­ne irdabb of wheat exceeded four hundred dirham of accounts. Prices of commodities such as foodstuffs, drink and clothing followed a similar trend, thus causing an increase unheard of in recent times in the wages of such persons as construction workers, labourers, craftsmen and artisans”
In the Suluk, Al-Miqrizi further described the nature of inflation in Eqypt:

“A calf sold for 7,000 dirhams of account although its regular price was only 500; one pair of geese sold for 2,200 and one egg cost 2 dirhams of account. In the same year, the rate of the dinar jumped in two months from 100 dirhams of account in mid Jumada to 310 in Rajab”

The third stage saw the reintroduction of the silver dirham by Sultan Muaayad who followed the monetary reform proposed by al-Maqrizi. By the end of his rule, decline in population (black death) brought in a period economic slowdown.

The monetary reform proposed by al-Maqrizi is discussed in all his four books wrote on the history of Egyptian social, political and economic life and its monetary system. He blamed and critized the government for failing to uphold their responsibilities abused of power. The monetary mismanagement and failure to main economic stability was described in the Suluk as follows:

“The ghala hit Egypt in 806H. This is caused by the government administrators who hoaded food and commodities to sell them at a higher prices. They increase the rent o­n land in Eqypt causing the cost of production to rise drastically. They also destroy the monetary system by not following the Islamic standard of monetary regulation (ibtal assikah al Islamiah). They do so by using dinar from the west and deliberately increase the price of gold from 20 dirham to 240 dirham for each mithqal or dinar (hoarding of gold among government administrators was rampant). They want to make profit by purposely imposing high prices of gold). The system of dinar and dirham is then changed into the system of fulus. The fulus which was never used as a monetary base now becomes a medium of exchange and measure of value”.

Al-Maqrizi puts the fluctuation of the currency as the main cause the economic crises of Mamluk Egypt followed by hoarding and corruption of government officials. In the Ighatat he observed:

“We are presently at the beginning of the year 808/1405-6 and because of the fluctuation of the currency, the scarcity of the necessities of life and the malfeasance and poor judgment (on the part of officials), the situation is continually worsening due to greatly distressed and abominable conditions”

Al-Maqrizi’s proposals are as follows:

First “We shall say: Know- May God guide you to your own righteousness and inspire you to follow the straight paths of your fellow humans – that the currencies that are legally, logically and customarily acceptable are o­nly those of gold and silver and that many other metal is unsuitable as a currency. By the same token, the situation of the people cannot be sound unless they are obliged to follow the natural and legal course in this regard (i.e. currency), namely that they should deal exclusively with gold and silver for pricing goods and estimating labour costs.”
In this proposal, it is evident that all payments made in trading (al-bay’) and services (wages) must be made using only gold and silver. To ensure that people have confidence on the quality of the gold and silver currencies, al- Maqrizi proposed the prohibition of the debasement of money. This is further explained in his second proposal next.

Secondly “The price of 100 dirham of pure and unadultered silver is 6 mithqals of gold, to which is added ¼ dinar at current prices to be paid to the mint as a fee to cover the price of copper (used in the alloy), the taxes due the sultan, cost of firewoods, the wages of workers, and the like”

Forbidding debasement of money would also mean using silver dirham to pay wages as well as prices of goods and commodities. In this manner, the welfare of the people is guaranteed. This point was clearly spelt out by al-Maqrizi in the Ighatat. He said:

“If God would guide those whom He has entrusted with the welfare of His servants to reinstate gold as the exclusive basis for transactions as it was previously – to link the value of goods and the costs of labor – this would lead to the succor of the community, the amelioration of the general situation and the checking of the decay that heralds destruction”

Thirdly “One mithqal of gold will be exchanged for 24 silver dirham coins 24 dirham coins is equivalent to a weight of 140 dirhams in copper coins (fulus), which will be spent for purchasing insignificant goods and for daily household transactions. This will greatly benefit the population and cause prices to drop”

Al-Maqrizi’s propose,
1) Using only gold and silver as money
2) Stop debasement of money and
3) Restricted use of the fulus, are expected to reduce the price level in the following way as described in the Ighatat:
“This will greatly benefit the population and cause the price to drop. Shortly thereafter, people will rush to the mint and bring forth such large quantities of (hoarded) silver that it will surpass the capacity of the mint. Consequently, the situation will improve, conditions will ease, wealth will be abundant and prosperity will increase infinitely. ‘God knows and you know not’ (Quran : 2:216)”
The superiority of gold and silver as money over fulus, was mentioned in the Khitat as:
the price of goods under gold and silver increases slightly but under fulus price of goods increase rapidly
In this manner, people who use gold and silver will find ease and comfort from the fruit of their labor. on this point al-Maqrizi says in the Ighatat:

“It is clear that if currency regained its previous status, anyone who received money, whether from land tax, rent from a property, a salary from the sultan, income from a religious endowment or wages would receive it in gold or in silver, according to whatever the officials deemed appropriate and would spend it o­n this needs for food, drink, clothing and other necessities. Despite the unstable (economic) conditions through which we are living, if (my proposal) were put into practice, anyone who received any money in these two currencies would not feel cheated at all”
God guides whom He wishes.Praise be to God alone and Peace be upon the Prophet after whom no other prophet will come (Al-Maqrizi).

The use of fulus is restricted to meet local needs such as fulfilling the sale and purchase of less expensive commodities such as food and daily household expenditure. on this point al-Maqrizi said in the Ighatat that:, debasement of money must not be allowed. Any activities of debasement must be stop and discontinued. This is because religious obligation such as Zakat payments was made on genuine money and not impure or debased money.
The important matter that we can outline from on this writing of al-Maqrizi in the Ighatat that he stressed that only gold and silver can be used as money.
References
1. Emad Rafiq Barakat
2. Abbas Firman
Books
1. Ighathat al-Ummah bi-kashf al-ghummah
2. Al-suluk li-Ma’rifat dawal al-Muluk.
3. Shothur al-‘ugood fi thiker al-Nuqud
4. Adel Allouche, Mamluk Economics ( A study and Translation of Al-Maqrizi’s Ighathah), University of Utah Press, Salt Lake City, 1994.

Source :http://islamhariini.com/2012/11/19/al-maqrizi-on-the-role-of-the-dinar-and-dirham-as-money/